Senin, 26 Oktober 2015

Pahami Jaminan Sosial, AJI Gelar Work Shop Jurnalistik

SAMARINDA, KABARKALTIM.CO.ID-Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama dengan Friedrich Ebert Stiftung (FES) menggelar workshop jurnalis dengan tema "Bagaimana Sistem Jaminan Sosial (BPJS) Bekerja" yang diadakan di Hotel Aston Samarinda, baru-baru ini.

Ketua AJI Balikpapan Novi Abdi  mengatakan, sejak tahun 2013 lalu, AJI dan FES telah bekerjasama untuk memberikan peningkatan kapasitas dan pemahaman pada jurnalis di beberapa daerah terkait sistem jaminan sosial.
Media massa atau jurnalis diharapkan bisa memahami dasar dan bagaimana Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan ataupun BPJS Kesehatan ini bekerja. 
 
"Dengan pahamnya jurnalis tentang pola jaminan sosial, diharapkan bisa memberikan dampak terhadap masyarakat banyak," kata Novi.

Selain bentuk pengawasan publik, masyarakat pun diharapkan dapat mendapatkan informasi yang akurat terkait BPJS, sehingga badan yang dibentuk oleh uang iuran pekerja ini bisa termanfaatkan sebagaimana mestinya.

Ia mengatakan pada tahun 2013 lalu, AJI Indonesia dan FES juga telah menyelenggarakan kegiatan yang sama di beberapa kota di Indonesia, yaitu Jambi, Mataram, Pontianak, Lampung, Kendari, Mamuju, Maumere, Gorontalo dan Banyuwangi.


Karena, respons yang cukup baik dari peserta selama pelatihan serta hasil liputan peserta sebagai follow-up kegiatan, menjadi dasar AJI dan FES kembali akan menyelenggarakan kegiatan serupa di Kota Samarinda.


Adapun salah satu tujuannya Novi sebutkan adalah untuk memberikan pemahaman kepada jurnalis tentang isu-isu kesejahteraan masyarakat dan juga memberi pemahaman tentang memahami dasar dan bagaimana BPJS bekerja.


"Sehingga media bisa memonitoring BPJS dan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai hal tersebut secara komprehensif," jelasnya


Selain itu menurutnya juga menjadi ajang jurnalis bertukar pengalaman dalam membuat pemberitaan tentang isu kesejahteraan masyarakat, sehingga memperkaya ide-ide liputannya.


Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diberlakukan sejak Januari 2014 lalu, menjadi fokus perhatian masyarakat. Sistem jaminan kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja, menimbulkan berbagai persoalan yang belum dipahami oleh masyarakat.

Dalam sistem jaminan sosial yang digulirkan pemerintah Indonesia ini, diberlakukan pola gotong royong. Alasannya, fiskal Negara belum cukup untuk menutupi seluruh warganya jika digratiskan. Pola ini berbeda dengan beberapa Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Berbagai persoalan yang belum dipahami oleh masyarakat dalam penyelenggaraan SJSN ini,   telah dikupas tuntas oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Asih Eka Putri, Wakil Ketua Apindo Kaltim Doddy Achadiat, perwakilan dari BPJS yang menjadi pembicara dalam Workshop Jurnalis bertema “Bagaimana Sistem Jaminan Sosial Nasional Bekerja”.

Peserta 25 jurnalis, terdiri dari pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur, dan reporter di berbagai media dari Kaltim.

Ia menambahkan, saat workshop, peserta didorong membuat rencana liputan terkait isu jaminan sosial. Lima rencana liputan terbaik akan dibiayai liputannya dan karya yang telah dipublikasikan di media massa dari masing-masing daerah akan dipilih di akhir periode program.

“Kemudian diterbitkan kembali secara nasional melalui website dan jaringan media sosial AJI Indonesia. Diharapkan tulisan-tulisan tersebut bisa menjadi referensi kalangan jurnalis lainnya yang akan meliput isu jaminan sosial maupun masyarakat umum yang membutuhkan informasinya,” jelas Novi. (andi ar evrai)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More