Selasa, 20 Oktober 2015

Pino Indra : Sudah Waktunya PBTI Terapkan GAL

 CATATAN : PINO INDRA (Kepala Pelatih Puslatda Taekwondo Indonesia Kalimantan Timur) 

Pino Indra
SAMARINDA.KABARKALTIM.CO.ID - Performa dan kondisi atlet dalam perjalanannya menjalani profesinya memang tidak selamanya stabil dan datar-datar saja. Ada masa di mana atlet dalam kondisi yang sangat fit dan siap untuk menghasilkan prestasi terbaiknya, namun ada juga kalanya ketika atlit dalam kondisi recovery atau pemulihan, baik itu setelah menghadapi seuatu pertandingan ataupun dari serangan cidera.

Hal ini menjadi kontra indikatif ketika fluktuatif kondisi atlet tersebut menjadi pemicu gagalnya langkah atlit menuju puncak prestasi, hanya karena harus terhenti usahanya ketika  penentuan hasil seleksi atlet melalui sebuah ajang atau event tertentu tidak berhasil dilaluinya dengan baik karena kondisi atlet tersebut yang sedang dalam fase kurang baik.

Sebagai contoh adalah event Pra PON, di mana event tersebut pada beberapa cabang olahraga menjadi tolok ukur untuk mendapatkan tiket menuju ajang PON. Singguh ironi, ketika seorang atlet yang notabene sudah memiliki beragam prestasi tingkat nasional maupun internasional, akan gagal mendapatkan tiket berlaga pada ajang PON hanya karena pada saat bermain di PraPON atlet tersebut sedang dalam keadaan tidak maksimal performanya.

Global Atlhete Licence
Saya kira hal ini perlu adanya perhatian khusus dan pembenahan sistem dari pusat. Utamanya adalah regulasi yang berlaku saat ini dalam hal penentuan tiket PON untuk cabor taekwondo. 
Ada beberapa hal masukan yang saya ingin coba sampaikan, saya kira PBTI (Pengurus Besar Taekwondo Indonesia), sudah harus mulai menerapkan system GAL (Global Athlete Licence) seperti yang sudah diterapkan oleh Induk Organisasi Taekwondo Dunia (WTF / World Taekwondo Federation).

Apa itu GAL ? GAL adalah sebuah kartu lisensi yang dimiliki oleh atlet yang sah dan disahkan oleh pihak berwenang dalam hal ini, di mana lisensi tersebut difungsikan untuk syarat utama si atlet ketika mengikuti ajang resmi kejuaraan. 

Dan dengan GAL tersebut, record atlet dalam mengikuti setiap event pertandingan resmi akan terupdate secara systematis. Begitu juga dengan penerapan system perhitungan poin untuk menentukan level atau grade dari si atlet tersebut.

Nah, setelah adanya pola sistematis perhitungan poin, pendataan atlet tersebut, maka hal itulah yang saya kira bisa dijadikan dasar untuk penentuan rangking atlit tersebut. Yang kemudian rangking tersebut dijadikan dasar dalam penentuan tiket sebuah even besar seperti PON.

Sistem ini sudah berlaku di dunia, seperti contohnya pada ajang Indonesia Open di Riau Pekan Baru sebulan yang lalu, namun sementara masih berlaku untuk kategori senior. 
Berangkat dari pengalaman itu, saya rasa PBTI sudah semestinya mulai mengadopsi system itu untuk kita di Indonesia, dan tidak hanya untuk level senior saja. Sehingga semua hal berkaitan dengan database atlet dan rangking atlit bisa tertata dengan baik dan rapi. 

Selain itu hal ironi yang saya uraikan di atas tidak lagi perlu terjadi. Seorang juara seagames tidak berhasil berlaga di PON karena gagal menjadi juara saat PraPON, usut punya usut ternyata si atlit pada saat pra PON sedang sakit gigi. (jp)


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More