Senin, 16 November 2015

DULU, TAK ADA PERTANYAAN APA AGAMAMU ?

CATATAN : SETYO HAJAR DEWANTORO (pemimpin redaksi kabarindonesia.co.id)

SAAT masa kecil dulu, apakah Anda punya pengalaman yang sama dengan saya? Kita bermain, bersukacita, dengan siapa saja, tanpa bertanya dia beragama apa. Naturalnya anak-anak, adalah terbebas dari segala bentuk prasangka religi (maupun rasial). Yang ada hanyalah hasrat untuk berbagi keceriaan dan tertawa bersama. Dan bagi saya, itulah saat bumi menjadi surga. Saat kerajaan kasih benar-benar mengejawantah.

Namun, itu cerita masa lalu. Kini, tak sedikit anak-anak yang telah mengenal kata, "Kamu kafir!", "Kamu masuk neraka!". Tentunya, itu ditujukan kepada mereka yang dianggap berbeda agama. Duhai....anak-anak telah disetel oleh sekelompok orang tua, menjadi mesin pembenci. 


Sungguh, jadilah bumi ini menjadi neraka sesungguhnya, jika anak-anak itu kemudian tumbuh dewasa dan menjadi pembenci siapapun yang dianggap berbeda. Apalagi, jika mereka juga dibuat percaya, bahwa mereka berhak menyakiti orang lain yang berbeda agama - karena dianggap berbeda agama identik dengan melawan Tuhan.

Siapapun yang waras..tentu merindukan masa lalu, ketika kita bisa bersama dalam keberbedaan.
Namun....kita tak cukup dengan merindu masa lalu. Kita mesti bertindak saat ini juga.....untuk memastikan negeri ini kembali menjadi laksana taman bunga yang berisi keindahan warna warni. Mulai dari tindakan sederhana: menebar kasih, doa, energi, kepada siapapun tanpa peduli latar belakang agama (juga rasnya). Agar semua bisa berbahagia. Karena kebahagiaan adalah hak semua orang. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More