Senin, 06 Maret 2017

Momentum Kunjungan Raja Salman, Suyoso Nantra : Stop Peradaban Kebencian


Membangun Hubungan Harmonis Umat Beragama melalui Dialog 

Raja Salman yang moderat bersama Jokowi, Megawati dan Puan
BALIKPAPAN, KABARINDONESIA.CO.ID-Indonesia kini bisa dibilang menjadi salah satu fokus perhatian dunia internasional, dengan kunjungan kenegaraan, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Jakarta (1-3 Maret 2017) dan Bali (4-9 Maret 2017). Hubungan bilateral yang sudah lama terjalin, kini makin erat di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Banyak sisi positif dari kunjungan balasan Raja Salman tersebut. 

Suyoso Nantra
Pemerhati sosial politik tanah air Suyoso Nantra tak lepas perhatiannya dari kunjungan kerja Raja Salman yang dikenal moderat dan toleran tersebut. Suyoso menyebut, kedatangan Raja Salman--sang penjaga dua kota suci di Mekkah dan Madinah tersebut, membuka mata internasional, tanpa kecuali masyarakat luas di Indonesia, khususnya mengenai dunia Islam. 

Islam yang sejuk dan toleran, digambarkan dari sosok Raja Salman, dari kunjungannya ke Indonesia, mulai dari sikap, tutur kata dan pertemuan atau dialog lintas agama, membuktikan secara nyata, Arab Saudi sebagai pusatnya Islam dunia, ikut aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia yang nyata.


Suyoso pun menyebut, momentum kedatangan Raja Salman di tanah air, sepatutnya menjadi momentum penting khususnya bagi semua elemen masyarakat di Indonesia, mengenainya pentingnya membangun hubungan atau dialog antar umat beragama, semangat mewujudkan perdamaian, toleransi dan menghentikan kebencian atas dasar atau alasan apapun. 

"Tak salah jika saya menyebut, peradaban kebencian atas dasar apapun, stop. Sudahi kebencian itu, mari sama-sama membangun peradaban yang dilandasi semangat toleransi, persatuan dan kesatuan semua anak bangsa, yang beraneka ragam di tanah air ini," beber Suyoso kepada media ini, Sabtu (4/3/2017). 

"Saya menilai, selama ini munculnya konflik, karena kurangnya hubungan, hubungan yang kurang harmonis, nah itu harus dibangun baik melalui dialog-dialog, membangun kesepahaman bersama mengenai pentingnya mewujudkan perdamaian yang nyata, bukan damai yang semua. Indonesia-Arab Saudi, menjadi garda depan menunjukkan ke dunia luas, bahwa damai itu bisa diwujudkan. Gambaran Islam pun berubah, Islam damai, Islam sejuk dan toleran, yang mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di manapun berada," urai Suyoso. 

Suyoso pun mengajak, semangat toleransi itu, terus disebarluaskan di seluruh pelosok negeri, mengedepanpan persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Dalam pergaulan dunia, Indonesia patut mendorong semua negara, stop perang. Indonesia dengan beragam latar belakang mendapat pujian Raja Salman, jadi di mata dunia luas, Indonesia punya peran besar, bangsa besar dengan beragam suku, agama dan budaya namun tetap bersatu," kata dia. 

Untuk informasi,  kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud (Raja Salman) ke Indonesia, dinilai telah membuka penilaian positif terhadap Islam moderat. Selain itu, kunjungan ini juga mengubah pandangan masyarakat Arab tentang Indonesia, karena selama kunjungan Raja Salman media utama berbahasa Inggris Arab Saudi, Arab News, secara terus menerus melakukan siaran langsung dari Jakarta. Dan, siaran langsung media tersebut diberi label simpatik, "Lautan Cinta" (A Sea of Love). Bahkan, media Arab News mengomentari sebagai "spektakular" atas sambutan Presiden Jokowi dan masyarakat Indonesia terhadap Raja Salman.

Hal positif lainnya, yang diprediksi oleh para pengamat, adalah Indonesia akan diperhitungkan menjadi destinasi wisata dari turis Timur Tengah, terutama bangsa Arab. Kunjungan Raja Salman ke Indonesia tersebut juga berdampak bagus bagi nasib para tenaga kerja Indonesia (TKI) di Timur Tengah, terutama di Arab Saudi. (tw) 
 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More