Minggu, 30 April 2017

"JIKA KU MATI, KAU MATI ISENG SENDIRI"

Sajak Cinta Mengenang Sastrawan Chairil Anwar


Sajak cinta untuk Chairil Anwar
TEPATNYA Jumat (28/4/2017) lalu atraksi baca puisi digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, persisnya di anjungan Sumatera Utara. Bukan suatu kebetulan semata. Sebanyak 16 sastrawan tampil masing-masing membacakan puisi. Ya, mereka tampil membawa puisi untuk mengenang Sastrawan Chairil Anwar, yang meninggal 28 April 1949, meninggal di usia muda 27 tahun. 
 Media ini berkesempatan melihat langsung penampilan 16 sastrawan, satu per satu membacakan puisi. Sajak-sajak cinta untuk mengenang sang sastrawan kondang dan legendaris. Salah satu puisi yang dibawakan yaitu "Jika Ku Mati, Kau Mati Iseng Sendiri". Salah satu sastrawan yang tampil yaitu Anugrah Kabihantoro (Anka). 
"Ajang ini untuk mengenang meninggalnya sastrawan legendaris Chairil Anwar. Karya-karyanya terus memotivasi untuk para sastrawan berkarya tanpa henti," ungkap panitia kegiatan, sastraawan Edy Prambuano. 
  

Chairil Anwar
Ajang yang sama informasinya akan digelar kembali pada 16 Mei 2017 mendatang. Animo para pengunjung positif, dengan kegiatan pembacaan puisi mengenang Chairil Anwar. Tak sedikit pengunjung TMII yang sengaja mendekat dan mendengar puisi demi puisi yang dibawakan para sastrawan tanah air. 

Untuk mengenang Chairil Anwar, dirinya sosok penyair legendaris yang dikenal juga sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul “Aku”). Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar.

Chairil Anwar sendiri dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan Bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia. 

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta”
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya. 

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. (indri/net)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More