Rabu, 17 Mei 2017

Dari Jakarta hingga Lubuklinggau : Diskresi Polisi antara Hidup dan Mati

oleh Priyo Suwarno


TUGAS pengamanan itu jaraknya cuma satu senti dengan maut! Semua faham dan mengerti itu. Bayangkan saja, polisi diback-up aparat TNI melakukan pengamanan aksi jutaan manusia yang tumpah ruah secara bergelombang di Ibukota, Jakarta. Setidaknya ada lima kali yaitu aksi massa I, II, III dan IV, kemudian berlanjut V. Semuanya aman terkendali.


Memang agak berlebihan jika disebut tidak ada setetes darah pun yang mengucur, akan tetapi kinerja polisi dibantu aparat TNI benar-benar menunjukkan sebuah kualitas sangat maju dan bermutu dalam mengendalikan massa yang luar biasa itu.

Bangsa Indonesia selayaknya patut mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME, atas kinerja aparat keamanan khususnya dalam pengamanan aksi itu. Dimana jutaan manusia penuh dengan potensi emosi dan amarah meletup-letup, ternyata berhasil dikendalikan dan dijinakkan secara baik dan teratur.


Ini penting, mengapa? Karena jika saja terjadi setetes darah mengucur apalagi ada korban jiwa, maka bisa dipastikan polisi bakal menjadi bulan-bulannya dan tersudut. Padahal dalam penegakkan hukum, polisi tidak boleh menyerah kalah terhadap tuntutan massa. Bisa saja kondisi itu kemudian berubah menjadi cheos (kerusuhan) aksi-aksi yang perusakan dan membahayakan keamanan Negara. Sejauh ini, kondisi keamanan Indonesia meski diguncang oleh aksi massa luar biasa, masih aman terkendali.


Pengamanan publik, bukan cuma urusan demo-demoan saja, tetapi menjaga ketertiban umum dalam kehidupan sehari-hari. Setiap detik, setiap jam dan setiap hari tiada henti semuanya membutuhkan campur tangan polisi.

Diminta atau tidak, Polisi wajib turun tangan jika terjadi peristiwa yang menyangkut ketertiban umum. Sikap ini pula yang mendorong Aiptu Sunaryanto, anggota Polantas Jakarta, bergerak melakukan pengamanan, ketika terjadi peristiwa penodongan dan penyenderaan di dalam sebuah angkot, 10 April 2017 lalu.

Menggunakan segala kepiawaiannya sebagai seorang pengaman, Suanryanto setelah mengucapkan: Bismillah, meletupkan senjata apinya tepat mengenai tangan kanan pelaku penyenderaan diketahui bernama Hermawan (28). Pisau pelaku terpental, Sunaryanto pun berhasil menyelamatkan nyawa seorang bocah bernama Dafa (2) dan ibunya Risma yang  tercanam kena gorok. Luar biasa! Sungguh tindakan happy ending yang membanggakan bagi setiap polisi dan lembaganya.
Sama-sama meletuskan senjata, peristiwa ini berbanding terbalik dengan kasus penembakan yang terjadi Lubuklinggau, Sumatra Selatan, pada hari Selasa (18/7/2017). Satu keluarga yang berada di dalam mobil Honda City  nyaris meninggal akibat luka tembak oleh seorang petugas kepolisian. Lantaran pengemudi mobil itu nekat menerobos razia petugas Mapolres Lubuklinggau.
Mereka satu keluarga dari Desa Belitar, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Satu wanita tewas di lokasi kejadian, beberapa keluarga lainnya menderita luka-luka tembak. Gatot Sundari adalah korban yang mengalami luka tembakan pada punggungnya. Sedangkan anggota keluarga lainnya ada yang terkena luka tembak di bagian tangan, lengan, dan juga telinga. Korban meninggal bernama Surini yang tewas di tempat karna mengalami luka tembak di bagian paha kiri dan perut di sebalah kiri serta tiga luka tembak di bawah payudara sebelah kanan.
Sopir mobil itu memang menunjukkan sikap melawan, polisi menandai bahwa kendaraan ini masuk daftar mencurigakan. Mobil ini tersebut sudah diganti plat nomor menjadi BG 1488 ON, yang susungguhnya adalah kendaran dari Jakarta.
Aat itu petugas Mapoles Lubuklinggau melakukan razia rutin, kendaraan itu ketika dihentikan malah menerobos perugas, sehingga terjadi kejar-kejaran. Lalu diberikan tembakan peringatan, mobil terus dipacu, sehingga dilakukan tembakan kea rah mobil beberapa kali. Seorang penumpang wanita tewas seketika, enam orang di dalam kendaran pun mengalami luka-luka tembak. Tanggal 25 April, Indrayani sopir kendaraan itu meninggal dunia di rumah sakit.
Sedangkan Brigadir K yang saat ini ditahan untuk mempertanggungjawabkan tindakan. Ini menjadi duka bagi petugas dan institusinya. Meskipun sesungguhnya dia melakukan tindakan itu setelah secara nyata pelaku melarikan diri. Karena menerobos dan melarikan diri saat dirazia, maka sekeluarga menderita termasuk petugas pun berubah menjadi tersangka.
Kejadian-kejadian ini menjadi makanan sehari-hari bagi pertugas kepolisian, apalagi di daeah atau wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi, seperti Lubuklinggau. Dimana lokasi itu tindak kejatahan kriminalitas pencurian motor, mobil, begal dan curas sangat tinggi.
Kondisi ini mendapat sorotan Jenderal (Pol) Tito Karnavian, rang nomor satu yang paling bertanggung jawab di tubuh Kepolisian Republik Indonesia. Kepada Aiptu Sunaryanto, Kapolri member reward berupa dua tiket, yaitu tiket untuk alih golongan dengan cara bersekolah, serta sebuah pin emas.
Persoalannya bukan hanya reward dan punishment (penghargaan dan hukuman) saja, tetapi lebih kompleks dari itu. Bagaimana polisi sebagai penegak hukum dan penjaga ketertiban umum sebagai pelindung masyarakat juga mendapatkan perlindungan yang lebih layak.
Kapolri menyatakan bahwa Sunaryanto  menggunakan kewenangan diskresi sebagai anggota Polri untuk menembak si penyandera. Ternyata berhasil dan sukses, sebaliknya Brigadir K sebaliknya, membawa korban jiwa.
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan, setiap polisi di dunia punya kewenangan diskresi untuk mengambil upaya paksa atas keadaan genting. Namun, diskresi jangan sampai diterapkan berlebihan hingga jadi kebablasan. Tito mencontohkan penembakan mobil satu keluarga di Sumatera Selatan oleh polisi. Mobil tersebut diduga berisi pelaku kejahatan karena tidak bersedia berhenti saat dihentikan dalam razia. Akibatnya, polisi memberondong tembakan ke arah mobil tersebut. Padahal, mereka yang ada di mobil itu hanya warga biasa.
 
Kewenangan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan menganalisis keadaan, serta pembenahan terkait kewenangan yang melekat tersebut. "Ini yang perlu dievaluasi di lingkungan Polri, agar lebih banyak anggota polri di-drill (dilatih) di tingkat pendidikan dan kemudian di-drill lapangan saat sedang bertugas, coaching clinic," kata Tito. 
 
Berkaca dari itu, secara riil pada saat terjadi sebuah peristiwa/ kejadian, polisi wajib menyelamatkan diri sendiri dan siapapun yang patut dilindungi. Menjadi tidak elok, jika polisi dilumpuhkan oleh penjahat lebih parah lagi bila mati terbunuh oleh pelaku kriminal, ketika hendak melindungi korban.
 
Oleh karena itu, seorang petugas /aparat keamanan baik itu polisi maupun TNI sudah mempunyai standar tertentu mempunyai banyak kelebihan. Mereka harus unggul fisik, intelektual dan kesehatan. Calon Polisi dan TNI  harus lolos semua tes fisik, tes intelegensia dan kemampuan otaknya harus cerdas, plus sehat secara rohani dan jasmani. Ini semua sudah terstandar dalam rekrutmen calon polisi/ TNI. 
 
Selanjutnya mereka digembleng secara rutin di tiga faktor keunggulannya itu, sehingga ketika mengambil keputusan dalam bertugas berhasil menyelamatkan diri sendiri atau pun korban dan pelakunya. Ini bukan pekerjaan mudah. Jauh lebih mudah bagi siapapun untuk mencela, mengkritik, menteror bahkan memfitnah dari pada melaksanakannya di lapangan.
Diskresi merupakan kewenangan yang luar biasa yang diberikan kepada aparat keamanan, akan tetapi penuh risiko. Petugas keamanan harus benar-benar berpikir, bergerak dan bertindak secara cepat dan tepat. Tuntutan memenuhi standar ini tidak bisa bim salabim, harus lewat sebuah proses panjang dan membutuhkan banyak drilling, training dan ujian secara berkesinambungan.
 
Meski proses situ sudah dijalani, bukan berarti petugas tidak pernah salah dalam bertindak ketika melaksanakan tugas di lapangan. Bahkan sering kali terbalik dan mencelakai diri sendiri maupun public yang seharusnya dijaga dan diamankan. Kata pemaafnya adalah tidak ada gading yang tidak retak, akan tetapi menjadi petugas keamanan sesungguhnya adalah pekerjaan mulia. 

Menjadi polisi adalah pilihan hidup, sekaligus menjadi tempat berbakti kepada nusa dan bangsa, turut serta aktif menjaga keamanan. Keberhasilan member pertolongan kepada sesama sesungguhnya merupakan reallisasi iman secara nyata, apalagi berhasil mengemban amanat Negara. Tidak berlebihan bila negeri ini sesungguhnya bisa makmur dari kinerja polisi. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More