Rabu, 14 Juni 2017

TAMAN KOMIK NUSANTARA: “PANCASILA DAN PERDAMAIAN”


[Penulis: Endah Priyati, pendiri Taman Komik Nusantara] 

Endah Priyati pendiri Taman Komik Nusantara
TAMAN Komik Nusantara tampil kembali menghadirkan pameran komik bertema Pancasila dan Perdamaian pada bulan Juni 2017.  Pekan pertama yang bernuansa hari lahir Pancasila kegiatan dilaksanakan di Soka Gakkai Indonesia, Jakarta pada hari Minggu, 4 Juni 2017. 
Pekan kedua kegiatan digelar di sekitar Monas dan Museum Gajah pada hari Minggu, 11 Juni 2017 yang dilanjutkan dengan nonton bareng Teater Koma. Dalam rangka pekan Pancasila, saya Endah Priyati sebagai pendiri Taman Komik Nusantara merasa senang dan bangga memperoleh kehormatan menggelar pameran sekaligus membacakan narasi dalam acara 
“Pertemuan Kemenangan” di Soka Gakkai Indonesia. Pendidikan ternyata dapat dihadirkan dalam bentuk gerakan sadar budaya di komunitas multikultural yang memiliki kesamaan misi yaitu menjalin persahabatan dan menebarkan perdamaian. 
Tujuan utama dari pendidikan adalah memanusiakan manusia atau membangun karakter seseorang menjadi baik dan positif. Di dalam pendidikan diperlukan media untuk mempermudah penyampaian pesan yang akan ditransferkan kepada anak-anak. Salah satu media yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menarik adalah komik. 

Dalam hal ini komik merupakan media pembelajaran yang sangat potensial dan menarik sebagai bentuk dialog interaktif mengeksplorasi imajinasi dan tentu saja kreatifitas. Dalam pameran kali ini, disajikan pula 50 komik bertema pesan-pesan yang merupakan penjabaran butir sila Pancasila dan tema perdamaian yang digambar oleh para sahabat Taman Komik Nusantara.
Dalam buku Discussion On Youth, tokoh Daisaku Ikeda pernah menulis bahwa: “Komik memang membawa pesan positif yang bisa mengubah hidup kalian, membuka mata kalian, atau menggerakkan kalian. Komik berisi pesan yang lebih mendalam daripada buku yang membosankan dan monoton”. 

Sementara itu  “Pendidikan Berbasis Kebudayaan Nusantara” dari Taman Komik Nusantara ini dapat memberi kontribusi positif dalam menumbuhkan rasa cinta pada budaya Nusantara, seperti gambar wayang yang menampilkan tokoh-tokoh Punakawan. Hal ini sejalan dengan upaya menciptakan generasi melek literasi sejarah yang merupakan gerakan kesadaran sejarah guna menumbuhkan ketertarikan minat baca, mengolah kritik sumber dan mengasah kreatifitas. Gerakan ini juga menjadi ajang dialog menarik ketika dihadirkan di depan publik.

Tujuan dari pendidikan adalah menumbuhkan karakter diri setiap manusia. Tentu sebuah tugas mulia bila seorang guru berperan memperjuangkan karakter dan nilai.  Karakter merawat, karakter disiplin, dan karakter mencipta nilai. Nilai-nilai yang menurutnya kini sangat relevan dibutuhkan oleh bangsa Indonesia adalah membumikan ajaran Pancasila dan perdamaian dalam keseharian. 

Dalam kebhinekaan kita sejatinya sangat kaya akan makna kearifan di balik keragaman budaya. Sebagai contoh filosofi Jawa “Memayu Hayuning Bawono” yang bermakna mengupayakan keselamatan hidup di dunia, mempercantik ibu pertiwi. 

Dalam hal ini konsep kearifan lokal dalam mencintai lingkungan hidup menjadi spiritualitas budaya yang condong pada penghayatan batin dan perilaku hidup keseharian. Ada pula petuah beliau yang berpesan untuk senantiasa mengolah rasa yang termaktub dalam filosofi Jawa “Ojo rumongso iso, ning sing iso rumongso” yang mengingatkan manusia untuk selalu sadar diri bahwa di atas langit masih ada langit. 

Orang yang terlalu tinggi memanjat tanpa berpegangan akan jatuh dan merasa sakit jika terjatuh. Demikian pula filosofi masyarakat Minahasa “Si Tou Timou Tumou Tou” suatu ungkapan kalimat yang bermakna konsep manusia hidup untuk menghidupkan manusia. Dalam hal ini diutamakan interaksi sosial yang baik dalam hidup bermasyarakat, saling bekerjasama dan toleransi.
 
Pendidikan bukanlah kegiatan menransfer pengetahuan dan informasi belaka, tapi kegiatan untuk mempersiapkan pemimpin muda masa depan yang akan menebarkan spirit cinta kasih, perdamaian dan kemanusiaan.  Ilmu pengetahuan dengan segala praktiknya menjadi alat untuk membangun peradaban bangsa menjadi lebih bermartabat. Pendidikan mengantarkan orang-orang pada jalan penemuan dan penciptaan karya yang otentik. Dengan pendidikan seperti ini nilai-nilai kebudayaan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam menemukan jati dirinya dan menghidupi hidupnya secara bermartabat.
 
Ada yang istimewa dalam pameran kali ini yaitu “Komik Pancasila dan Soekarno” karya Alan Darmasaputra dan “Komik Dialog Peradaban antara Gus Dur dan Daisaku Ikeda (tokoh Islam dan Budha)” buah karya Rosi Febrilianti dari Taman Komik Nusantara. Dengan mempromosikan pertukaran budaya dan pendidikan, kita telah menciptakan peluang bagi penduduk berbagai negara dan wilayah untuk bertemu muka guna membangun rasa percaya dan mengembangkan persahabatan. Salam Perdamaian di hati kita semua. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More