Sabtu, 15 Juli 2017

Kepala BIN: Ada Ancaman Masif dari Operasi Intelijen Asing Terhadap Kedaulatan Pangan Indonesia, Salah Satunya 'Menggoyang' Posisi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Menteri KKP Susi Pudjiastuti di Pamekasan, Madura (Foto: Kompascom)
KABARINDONESIA.CO.ID - Gonjang ganjing yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini tidak terlepas dari adanya intervensi luar/asing yang terus berusaha mempengaruhi situasi dan kondisi tanah air melalui beberapa prakondisi-prakondisi yang mengarah pada destabilisasi dan kekacauan ekonomi. Hal tersebut tergambarkan dari paparan intelijen yang disampaikan oleh Kepala BIN, sebagaimana terangkum berikut ini.


Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengatakan, ekonomi Indonesia saat ini dikuasai oleh kartel pangan dan energi. Kartel ini sulit diberantas karena memiliki jaringan yang sangat luas.

Budi menyebutkan, jaringan kartel tersebut saat ini tengah berusaha menggoyang Susi Pudjiastuti dari kursi Menteri Kelautan dan Perikanan. Misi ini dilancarkan karena bisnis mereka terganggu dengan kinerja Susi.

Kepala BIN Budi Gunawan (Foto: nationalnewsviva)
"Bu Susi sekarang sedang mengalami serangan balik yang sangat kuat, demo nelayan dan sebagainya," kata Budi Gunawan, saat menjadi pembicara dalam Halaqah Nasional Alim Ulama se-Indonesia di Jakarta, Kamis (13/7/2017).

"Kekuatan inilah yang bermain agar Ibu Susi diganti," tambah Budi.

Budi melanjutkan, bahwa para kartel itu tidak senang jika Indonesia mencapai kedaulatan pangan. Mereka ingin Indonesia selalu bergantung impor dari negara lain.

"Ini juga perlu diketahui para ulama. Ada operasi intelijen di bidang ekonomi yang sangat masif dan marak. Yang kita rasakan banjirnya produk palsu dan tidak berkualitas di Indonesia khususnya dari China dengan harga murah sehingga melemahkan produk lokal kita dan melemahkan kemandirian ekonomi," lanjut mantan Wakil Kepala Polri ini.

Lebih kanjut Budi mengatakan, ancaman paling krusial bagi Indonesia saat ini ialah ancaman terhadap keselamatan dan keutuhan negara.

"Ada dua operasi yang harus diwaspadai, pertama black ops intelligence, kedua psycho ops intelligence," kata Budi.

Budi menjelaskan, black ops intelligence merupakan operasi intelijen yang dilakukan oleh negara, lembaga, atau organisasi asing yang bertujuan melemahkan dan mengganti rezim pemerintahan. Pergantian rezim dilakukam melalui upaya infiltrasi, kudeta, dan lain-lain.

"Sedangkan psycho ops intelligence, operasi intelijen yang menyebarkan informasi-informasi dengan indikator-indikator tertentu melakukan brain wash, bisa melalui berita yang menyesatkan atau hoax terhadap target atau kelompok tertentu," jelas Budi.

Penyebaran Informasi-informasi bohong itu biasanya digunakan untuk mempengaruhi emosi, motif, dan cara berpikir orang-orang. Dengan maksud mengubah perilaku perorangan, kelompok, kemudian pemerintah. "Ini yang sudah terjadi di Indonesia," tegas mantan Wakapolri itu.

Selain itu, ada pula operasi intelijen di bidang ekonomi: "Currency war (perang mata uang -red.) untuk melemahkan mata uang kita," lanjutnya.

Jenis operasi intelijen ini sudah dialami Indonesia saat mengalami krisis 1998. Negara superpower selalu menggunakan operasi tersebut untuk melemahkan mata uang negara tujuan supaya bergantung pada mereka.

"Selalu bergantung, selalu berutang dan akhirnya meminta bantuan pada mereka. Contoh yang berhasil di Afganistan dan Irak. Saat ini sangat bergantung pada bantuan-bantuan negara superpower tersebut meski sumber daya mereka cukup besar tapi sudah dikuasai asing, pangan saja harus disubsidi asing," ungkap Budi.

Saat ini pun, lanjut Budi, Indonesia sedang diserang dengan currency war namun dalam skema yang berbeda, yakni operasi economic hit man. "Di bawah kendali CIA, mereka mampu membuat Indonesia mengalami krisis moneter 1998," pungkas Budi. [*\Dirangkum dari berbagai sumber berita/kk]

Editor: Max Oroh

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More