Jumat, 20 Oktober 2017

Respon Cepat Polri : Awas, Pelarian Teroris Pasca Hancurnya Kelompok Maute/ ISIS


oleh jurnalis senior : priyo suwarno   

Densus Anti Teror (net)
MENTERI Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana menegaskan bahwa pasukan militer Filipina berhasil menewaskan dua pemimpin aliansi militan dalam sebuah operasi di bagian selatan kota Marawi, Senin (16/10/2017).

Dua tokoh kunci militan itu adalah Isnilon Hapilon sebagai "emir" yang berbaiat dengan ISIS di Asia Tenggara serta Omarkhayam Maute, satu dari dua saudara laki-laki terpelajar Timur Tengah yang memimpin milisi militan. Mereka terbunuh dalam sebuah operasi berdasarkan informasi dari sandera yang baru saja diselamatkan.

Berdasarkan informasi dari sandera itulah, menurut Lorenzana, pasukan militer melakukan rencana penyerangan. Mereka berangkat pagi dan  ... mereka terbunuh. Begitu kisah dari Delfin Lorenzana kepada wartawan.

Kematian kedua tokoh itu merupakan kemenangan besar bagi militer, dalam merebut kembali Marawi, satu-satunya kota mayoritas Muslim di negara yang mulai melakukan  pemberontakan 23 Mei 2017.

Ratusan ribu orang Filipina telah mengungsi akibat pertempuran tersebut, yang menurut pihak berwenang telah menewaskan 813 pemberontak, 47 warga sipil dan 162 tentara. Tentara anak dan remaja termasuk di antara pejuang militan.

Pendudukan pemberontak di jantung Marawi telah menjadi krisis keamanan internal terbesar di Filipina selama bertahun-tahun yang warganya mayoritas beragama Katolik.

Pemimpin lain, Abdullah Maute, komandan militer kelompok tersebut, dilaporkan oleh tentara telah dibunuh pada Agustus, meskipun tidak ditemukan mayat untuk membuktikan kematiannya. Lorenzana mengatakan militer berusaha menemukan komandan pemberontak lainnya, seorang pengusaha Malaysia Mahmud Ahmad. Dia juga dikabarkan sudah tewas dalam sebuah serbuan militer.

Para pemimpin tersebut menjadi pusat pemberontak yang mengumpulkan kembali, mempersenjatai kembali dan merekrut setelah bentrokan sebelumnya selama dua tahun terakhir dengan kelompok Maute.

Aliansi pemberontak Dawla Islamiya terdiri dari pejuang dari kelompok Maute dari faksi radikal Abu Sayyaf  Hapilon dan dibantu oleh orang asing dari negara-negara yang mencakup Malaysia, Indonesia, Singapura dan beberapa negara Timur Tengah.

Jangan lupa disitu ada ‘orang-orang asing….Indonesia. Artinya ada militant-militan dari Indonesia yang memiliki afiliasi dengan gerakan ekstreme ini bergabung untuk membantu sebagai ‘pejuang’ melakukan pemberontakan di Marawi, Filipina.

Jangan lupa, Salah satu pendiri Maute, Omarkhayam Maute atau Omar Maute, memiliki seorang istri yang merupakan warga Indonesia. Wanita itu adalah Minhati Madrais yang merupakan warga Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Bekasi.

Dengan ‘habisnya’ pentolan kelompok Maute ini, maka militer Filipina segera melakukan pembersihan di Marawi, maka operasi dan razia kependudukan segera dilaksanakan. Mereka akan teliti satu persatu penduduk, untuk menentukan apakah penduduk itu berafiliasi atau tidak dengan kelompok Maute.

Operasi militer seperti ini normal saja, ketika pasukan sedang memerangi sebuah kelompok pemberontak. Efeknya pasti besar. Termasuk imbas ke Indonesia, ketika mereka yang masih hidup melakukan aksi ‘pulang’ kampung kembali ke negeri ini.

Nafsu terpendam mereka selama 148 hari bisa disalurkan ke Marawi, tetapi medan tempur itu kemudian berhasil dikuasi kembali oleh militer Filipina. Setelah itu kemana? Ya kembali ke Indonesia.

Apakah mereka tinggal diam?  Sungguh sulit diterka! Karena mantan kombatan itu sudah dilatih dan diajari teknik dan strategi perang. Kemampuan perang mereka bisa seperti semi militer atau bahkan secara spirit melampaui. Ini harus diwaspadai dan dijaga jangan sampai ditumpahkan ke Indonesia.

Polri tidak tinggal diam dan memberikan respon langsung situasi Marawi. Bahkan Kapolda Kalimantan Timur, Irjen (Pol) Safaruddin sudah memerintahkan Brimob Polda Kaltim di bawah pimpinan Kombes Pol Mulyadi dan tiga SSK (Satuan Setingkat Kompi) di-BKO-kan dikirim ke wilayah Tarakan, Berau dan Nunukan.

Mereka diberi tugas untuki mengantisipasi masukan para kombatan yang ingin pulang kampung ke Indonesia. Kini Polisi dan TNI sudah siap siaga mencegah mereka balik ke negeri ini.

Berdasarkan data intelijen, tidak kurang ada 600 orang warga Indonesia yang selama ini memberikan dukungan dalam pemberontakan di Marawi. Setidaknya jumlah inilah yang kelak akan balik ke Indonesia. Polri sudah melakukan antisipasi itu.

Nah, jika Polri dan TNI sudah melakukan itu apakah kemudian selesai urusannya? Untuk di tingkat polisi dan militer barangkali kita yakin bahwa mereka siap. Justru yang dikhawatirkan adalah ketidaksiapan warga Indonesia sendiri di dalam melakukan antisipasi atas kehadiran mereka di negeri ini.

Para kombatan itu masuk ke Filipina biasanya lewat jalurb tradisional, menggunakan perahu-perahu nelayan baik dari Indonesia maupun dari Filipina. Lebih dari itu, kombatan ini bisa mendapat perlindungan justru dari warga Indonesia sendiri. Mereka dilindungi dengan berbagai macam alas an sosial, agama, maupun kemanusiaan.

Justru di pintu inilah aparat kita menjadi kesulitan melakukan pencegahan, mengapa? Karena memang begitu banyak celah mereka bisa masuk kembali ke Indonesia. Nafsu perang mereka masih menyala-nyala. Harus dibawa kemana nafsu itu dilampiaskan? Paling rasional adalah melakukan gangguan ke Indonesia. Inilah yang harus diwaspadai.

Jadi jangan biarkan Indonesia dijadikan medan seperti Marawi (Filpina), Raqqa (Suriah), Afghanistan, Irak, Libia, Yaman, dan Paskitan. Sudah begitu masif korban nyawa hilang secara keji dan tak berperikamnusiaan di sana. Jangan lagi diimpor kembali ke Indonesia.

Polisi dan TNI sudah siap melakukan antisipasi. Oleh karena itu bangsa dan rakyat Indonesia jangan sampai memberi peluang sekecil apapun sikap dan perilaku terror masuk dan mengusik Indonesia. Lawan para teroris itu! (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More