Jumat, 19 Januari 2018

Pengajar Harus Jadi Inspirator dan Fasilitator

TANGSEL, KABARINDONESIA.CO.ID - Tenaga pengajar yang ideal tidak akan mudah ditemukan, bahkan sulit diciptakan. Kenyataannya, posisi pengajar belum tentu sekaligus berperan sebagai pendidik. Masih banyak terdapat di setiap proses pembelajaran. Materi pembelajaran seakan terlepas dan tidak terkait dengan kehidupan dan pekerjaan atau masa depan peserta didik.


Menurut Guru Besar Pendidikan Universitas Terbuka Prof M. Alwi Suparman, dalam tantangan hari ini, pembelajaran harus memicu inspirasi bagi peserta didik, sebaliknya jangan tidak menggairahkan. "Penilaian yang kita lakukan tidak boleh lagi sebatas kognitif, harus dilihat secara utuh," ujarnya saat menjadi narasumber kegiatan Pencerahan Pengajar dengan tema "Pendidikan di Era Global" yang digelar di Kampus Universitas Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Jumat (19/1/2017).

Ia menambahkan, fungsi pengajar dalam konteks sekarang adalah bagaimana menjadi arsitek yang mampu membangun strategi pembelajaran yang variatif. Artinya, kata dia, pengajar berfungsi pula sebagai fasilitator. Dikatakannya, dalam dunia pendidikan terdapat aliran yang berkembang.

Seperti aliran humanisme yaitu proses pembelajaran yang menekankan pada kebebasan individu dengan kata kuncinya adalah kebebasan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kemudian ada behavorisme yang memfokuskan pada perubahan perilaku peserta didik dengan cara mengatur/mengelola lingkungan sekitar. Dengan catatan, kata Prof Alwi, perubahan perilaku tersebut harus tetap diukur.

Selanjutnya ada kognitifisme yang menekankan pada kematangan intelektual, cybernetisme dimana penerapan belajar dibuat sistematik dan sistemik untuk mencari, menerima, menyimpan dengan memanfaatkan pengetahuan. Pada aliran ini pengajar menjadi bagian dari pemroses data. (sm)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More