Senin, 12 Maret 2018

Islam Kebangsaan, Keteladanan Rasulullah, dan Tantangan Ke-Indonesiaan

HARUS diakui bahwa keberadaan Islam di Indonesia merupakan realitas unik dan menakjubkan. Sejarah mencatat, Islam di Indonesia adalah kekuatan revolusioner yang paling menentukan dalam melakukan perlawan terhadap kolonialisme. Agama (Islam) telah menjadi kekuatan responsif terhadap beragam realitas kehidupan sosial dan dinamika berbangsa.

Itulah merupakan esensi penting dari apa yang disebut “Islam Kebangsaan”. Saya memaknai Islam Kebangsaan sebagai Islam yang menghargai budaya dan memperjuangankan keamanan negara. Yakni mencintai tanah air (nasionalisme), menghargai kenegaraan dan keragaman budaya yang tidak bertentangan dengan syariah.

Dalam kontek kenegaraan, Islam di Indonesia mempunyai konsensus bernama Pancasila. Pancasila merupakan kesepakatan bersama bangsa Indonesia yang mementingkan semua komponen dari Sabang sampai Merauke. Pancasila adalah landasan dari segala keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap bangsa serta mencerminkan kepribadian bangsa.

Melalui Pancasila itulah, berbedaan di Indonesia justru dijadikan berkah, bukan musibah. Dalam kehidupan sosial, masyarakat Indonesia—termasuk warga Muslim—telah sepakat menerima beragam perbedaan. Baik perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, dan lain-lain.

Sebagai contoh, jika ada orang tertimpa musibah, warga Indonesia wajib menolong orang tersebut tanpa membedakan apa agama, suku, ataupun afiliasi organisasi. Masyarakat Indonesia secara umum dan masyarakat Muslim Indonesia secara khusus telah menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama, tempat hidup, beribadah, dan berbagai terhadap sesama. Masyarakat Muslim Indonesia mafhum bahwa perbedaan adalah sunatullah. Sebab, jika Allah SWT menghendaki,  bisa saja manusia dibuat sama atau membuat makhluk yang sama.

Aman Dulu, Baru Iman
Dalam pengertian lain, saya menerjemahkan Islam Kebangsaan itu dalam istilah ‘al amanu qoblal iman (aman dulu baru iman). Mengapa? Sebab orang beribadah itu di atas negara.  Negara yang kacau dan selalu dihinggapi peperangan, masyarakat di dalamnya sulit menjalankan ibadah. Sebailiknya, negara yang tertip, damai dan aman, akan membuat ibadah masyarakat jadi khusu’. Begitu pula untuk menuntut ilmu, dibutuhkan negara yang aman dan tenteram.

Salah satu contoh. Saya pernah ke Palestina. Saat itu Masjid jauh dan waktu sudah malam. Jadi saya sholat di tempat penginapan. Saat saya hendak sholat dan tanya penjaga penginapan terkait arah kiblat, saya terkejut mengengar jawaban penjaga penginapan tersebut. Dia menjawab kira-kira begini, “Buka saja jendelanya kalau kelihatan Masjid itu kiblatnya.”

Mendengar jawaban itu saya tertegun sejenak. Namun tidak lama kemudian saya paham bahwa ini persoalan keamanan negara. Orang Palestina tidak tahu arah kiblat karena perang dengan Israel sejak tahun 1967. Jadi orang Palestina tahunya perang, sulit untuk belajar agama karena negara selalu tidak aman. Cerita ini merupakan salah satu contoh betapa mencintai tanah air atau nasionalisme itu sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Itulah mengapa para ulama dulu sangat gigih ikut berjuang melawan penjajah. Mereka tahu bahwa tanpa negara yang tenteram maka dakwah Islam dan penyebaran ilmu pengetahuan akan sulit dilakukan. Dalam konteks melawan kolonialisme dan mengobarkan semangat perjuangan di kalangan santri dan umat Islam kala itu, Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari sampai mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. KH Hasyim Asy'ari juga membuat jagron berbunyi hubbul wathon minal iman (mencintai tanah air sebagaian dari iman).

Ini pula yang menjadi landasan mengapa ukhuwah wathaniyyah  (persaudaraan sebangsa dan se tanah air) perlu dihadulukan baru kemudian ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Jika persaudaraan nasional ini sudah kokoh, sangat mudah untuk membangun persaudaraan sesama umat Islam.Logikanya sederhana. Orang ingin membangun masjid, pasti butuh tempat berpijak. Jadi masjid itu dibangun di atas tanah.

Keteladanan Rasulullah SAW
Islam Kebangsaan juga pernah diterapkan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang sukses. Sukses diberi tugas mengembangkan dakwah di seluruh dunia hanya dalam waktu 23 tahun. Padahal Muhammad saat itu sendiri. Nabi Muhammad yatim. Nabi Muhammad bukan sarjana. Nabi Muhammad tidak punya tim sukses, tidak punya baliho, apalagi Facebook.

Kenapa Nabi Muhammad sukses? Karena beliau diberi bekal, konsep, buku, aturan, panduan, juklak, juknis, berupa Al Qur’an.
Dan Al Qur’an sungguh luar biasa. Sisi menakjubkan Al Qur’an itu antara lain saat tiga kali penurunan wahyu Al Qur’an pertama kali (Surat Al-Alaq, Al-Muddatstsir, dan surat Al-Muzammil), tidak satu pun dari ketiga ayat itu pernah menyebut kalimat Allah. Adanya kalimat Rabbun. Ini sangat menarik. Pasalnya, kata Rabbun berarti Allah SWT menciptakan semua tanpa pandang bulu. Allah menciptakan makhluk berbagai jenis, mulai dari manusia, jin, iblis, malaikat, binatang, planet, dan lain-lain. Allah yang menciptakan, yang membuat hidup, membuat sehat dan seterusnya.

Hal itu menunjukkan bahwa kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT memperintahkan dakwah dan memandang makhluk dari sisi Rabb. Dengan kata lain, semua makhluk harus dimuliakan. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan manusia, dan Kami tempatkan mereka di daratan dan di lautan, serta Kami berikan mereka rezeki daripada barang yang baik-baik, serta Kami lebihkan mereka daripada kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan dengan sebenar-benar kelebihan.” (QS Al-Isra’ : 70).

Tidak hanya itu, dalam ayat lain Allah SWT juga mangatakan bahwa semua makhluk di muka bumi ini diberi rizki oleh Allah, termasuk binatang melata sekalipun. “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rizkinya.” (QS. Hud [11]: 6).

Ini artinya, Nabi Muhammad SAW diutus untuk memberi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Bukan rahmatan lil muslimin, apalagi rahmatan lil nahdliyin. Dikisahkan, pada suatu ketika Rasulullah masuk ke komplek orang Yahudi. Ada orang tua buta bertiak-teriak kelaparan. Melihat orang tua itu, Nabi Muhammad kemudian timbul iba dan mencarikan bubur untuk orang tua Yahudi yang buta tersebut. Setelah mendapatkan bubur, Nabi lekas menyuapi orang tua itu. Anehnya, saat disuapi, orang tua itu bercerita dan menjelek-jelekan Nabi.  Meski begitu, Nabi tidak bergeming. Nabi terus menyuapi orang tua buta itu setiap hari, kurang lebih selama tiga pekan. Sampai Nabi wafat.

Setelah Nabi meninggal. Orang tua buta Yahudi itu kemudian berganti disuapi oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Namun rupanya orang tua buta itu merasa ada yang aneh. Cara menyuapi Abu Bakar tidak seperti Nabi yang sangat halus. Cara menyuapi Abu Bakar dianggap kasar. Orang tua buta itu kemudian menanyakan siapa yang biasanya menyuapi dirinya kok sangat halus dan lembut. Abu Bakar menjawab kalau yang menyuapi biasanya adalah Rasulullah SAW. Orang tua buta itu kemudian menangis tersendu-sendu. Ia sangat menyesal karena selama ia disuapi oleh Nabi selalu menjelak-jelekan Nabi.

Akhirnya orang Yahudi tua buta itu akhirnya masuk Islam. Ia masuk Islam karena tersentuh dengan sikap dan akhlak Nabi, karena “disuapi”, bukan “dipentung”. Inilah pelajaran penting yang dapat dipetik. Sebab, salah satu persoalan serius sekaligus menjadi tantangan keindonesiaan kita adalah banyaknya orang yang berdakwah atau menyerukan agama Islam namun dengan cara-cara yang kurang santun. Mereka menyerukan kebaikan namun dengan cara yang kurang baik. Padahal menyerukan kebaikan harus dengan cara yang baik pula. Ingat bahwa “amar ma’ruf bil ma’ruf, nahi munkar bil ma’ruf” (menyampaikan kebaikan itu dengan kebaikan, dan mencegah kemungkaran ya harus tetap dengan kebaikan).

Penulis: KH Musthofa Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More