Sabtu, 07 April 2018

Putar Film Jejak Langkah Study Club : Membumikan Toleransi dan Perdamaian dalam Keseharian


 Penulis: Endah Priyati (Pegiat Sekolah Guru Kebhinekaan)


Generasi muda pegiat literasi foto bersama (ist/ki)
JEJAK Langkah Studi Club (JLSC) yang merupakan komunitas generasi muda pegiat literasi melalui media film, kini tampaknya semakin fokus pada pemutaran film anak yang bernuansa edukatif. 

Komunitas yang dikoordinasi Danny Kristianto sejak 29 Maret 2008 sampai sekarang bergerak aktif berupaya mensosialisasikan Civic Education (Pendidikan Kewarganegaraan) yang mengutamakan berbagi pendapat dan bersama-sama berbagi ide tentang apa yang bisa dilakukan bersama yang dilaksanakan di Ruang Sinema Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. 

Nilai-nilai yang kini sangat relevan dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia adalah membumikan ajaran toleransi dan perdamaian dalam keseharian. Dalam kebhinekaan kita sejatinya sangat kaya akan makna kearifan di balik keragaman budaya daerah. 
Hal ini tampak pada pemutaran film “Cahaya dari Timur : Beta Maluku” karya sutradara Angga Dwimas Sasongko yang diputar pada Sabtu, 31 Maret 2018, pukul 12.30 WIB, di Ruang Sinema Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. 

Salah satu kegiatan Jejak Langkah Study Club
Film ini adalah film yang diambil dari kisah nyata, bercerita tentang warga Ambon ketika diguncang konflik sara. Seorang pemuda warga Desa Tulehu (Ambon) bernama Sani Tawainella yang merasa bosan dengan konflik yang terjadi mencoba memulai usahanya untuk meredakan konflik melalui keahlian yang dimilikinya menjadi pelatih sepakbola anak-anak usia 15 tahun. 

Giat berlatih, motivasi tinggi serta semangat menjaga kekompakan dalam tim ternyata menjadi kunci sukses mereka berlaga dalam kompetisi tingkat nasional di Ibukota tergambar kuat dalam film yang berdurasi 130 menit ini. 

Seusai nonton film bersama, fasilitator yang menjadi pemandu acara menggunakan metode permainan pesan berantai untuk memotivasi anak-anak dari SMP Negeri 29 Jakarta yang menonton film tadi, berani mengungkapkan pesan agar siswa bertutur lewat tulisan dan lisan sehingga banyak pesan yang tergali secara efektif. 

Gambar tapak tangan anak bermakna bahwa setiap narasi mengandung benang merah bila dikaitkan dengan “Living Values” yang dekat dengan dunia anak. Contohnya pesan menghormati orang lain yang berbeda agama, menjaga solidaritas pertemanan, berlaku adil, sportif, dan masih banyak lagi. Kegiatan ini merupakan penguatan apresiasi film yang sangat bermakna dan bermanfaat. 

Sudah semestinya kita tidak hanya menyuarakan perdamaian tapi juga berani untuk mengambil langkah menghentikan segala bentuk kekerasan dan intoleransi. Dalam suasana belajar bernuansa edukatif ini komunitas ini berani menyampaikan pesan bahwa konflik, tindak kekerasan dan intoleransi sangat merugikan integrasi bangsa. 

Bila kita membuka sejarah bangsa Indonesia, perdamaian sudah terbukti menjadi nilai dasar dan fondasi NKRI berdiri, sehingga Indonesia yang sangat beragam atau bhinneka ini bisa terus ada sampai saat ini. Keragaman bangsa Indonesia dari berbagai latar belakang bahasa, suku, budaya dan agama, jelas merupakan energi utama kemajuan bangsa. 

Kebhinekaan mendorong kita bersikap toleran dan menghargai perbedaan yang melahirkan perdamaian di sekitar kita. Itulah makna penting mengapa istilah Bhinneka Tunggal Ika selalu digelorakan para pendiri bangsa ini. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More